Kali ini saya nggak post tentang makanan yang saya buat sendiri. Saya mau share bumbu andalan saya di dapur.
Saya ini pecinta bumbu instan. Jangan ditiru, ya? Hehehe...
Maklum lah, dengan dua balita, tenaga saya jadi terbatas. Blender sih ada, yang ga ada kadang bahan-bahan untuk bumbunya. Seringkali lupa dicek, ternyata entah ga punya pala, entah ga punya kunyit, entah jahenya sudah kering, jintennya sudah jamuran, dsb. Hihihi. Dan saya paling males bikin bumbu buat goreng tempe, tahu, ikan, atau ayam...duh, banyak banget yah malesnya? Hehehe. Sekali lagi, jangan ditiru, yaaa...
Bikin bumbu tempe, tahu, ayam, atau ikan itu buat saya menyiksa. Walaupun sebenarnya cuma bawang putih dan garam atau bawang putih, garam, ketumbar, dan kunyit. Menyiksanya adalah karena belakang-belakangnya bumbunya dibuang. Iya, dibuang! Emang mau dipake apa? Itu yang bikin sebel. Sudahlah effort buat nguleg bawangnya lumayan, eh ujung-ujungnya dibuang. Keliatan banget pelitnya yah? Hihihi.
Maka dari itu, waktu pertama kali mama beli bumbu jadi ini, saya senang bukan main. Ini komposisinya cuma garam, kunyit bakar (kayaknya. Soalnya ada bau sangit-sangit gitu), ketumbar, dan kemiri. Ini bumbu dasar kuning kering. Pertama kali pakai, dengan pedenya main ambil, kasih air, cemplungin tempe. Hasilnya? Buahhh, asiiiiiin amiiiit deh. Saya mengambil kesimpulan, ini kayaknya pakai garam krosok yang rasanya super asin itu. Sekarang saya pakai sedikit-sedikit saja dan pasti saya cicipi (meskipun adonannya masih mentah. Hihihi. Mungkin ini yang bikin pencernaan saya kacau).
Ke sini-sini saya menemukan bumbu ini ternyata bisa dipakai buat banyak masakan. Mulai dari goreng tempe, bikin bakwan, soto, gule, dll. Walaupun harus tetap ditambah bawang dan kroco-kroconya. Makin cinta lah saya dengan bumbu ini. Selain karena praktis, dia juga bebas pengawet, pewarna, msg. Suka deh. Makanya dinamain bumbu dewa karena tanpa bumbu ini, saya manyun kalau harus bikin gorengan. Segitunya banget, yah? Hihihi.
Dan mamaku yang super baik juga setia ngirim bumbu-bumbu ini dari Malang via paket ke Jakarta. Emang di Jakarta ga ada? Ada kali, ya...tapi saya ga tahu mutunya. Lagipula, bumbu ini belinya di mbah-mbah yang lewat depan rumah. Beliau pun ga setiap hari jualannya. Kadang seminggu sekali, dua minggu sekali, nggak tentu. Yaah, itung-itung bagi-bagi rizqi buat beliau. ^_^



0 comments:
Post a Comment